Investasi top news

Obligasi ESG 2026: Return Melaju Kencang, Ungguli Surat Utang Konvensional

ESG UPDATE, JAKARTA, 18 Februari 2026 — Obligasi berlabel environment, social and governance (ESG) mencatat laju return yang lebih tinggi dibandingkan surat utang konvensional pada awal 2026. Data terbaru menunjukkan instrumen berkelanjutan terus menarik minat investor global di tengah ekspektasi pelonggaran suku bunga.

Laporan dari Bloomberg Intelligence mengungkapkan bahwa Bloomberg Global Aggregate Green Social Sustainability Bond Index (GSS) mengungguli Bloomberg Global Aggregate Index hingga 28 Januari 2026. Selisih kinerja mencapai 93 basis poin (bps) secara year to date (YtD).

Kinerja tersebut melanjutkan tren positif sepanjang 2025. Indeks GSS mencatat return 12,43% tahun lalu, jauh di atas Global Aggregate yang hanya 8,17%, dengan selisih 423 bps.

Penyempitan Credit Spread Dorong Return Obligasi ESG

Penguatan indeks GSS terjadi setelah penyempitan credit spread sejak Desember 2025. Investor meningkatkan permintaan terhadap obligasi hijau seiring ekspektasi pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve pada 2026.

Senior ESG Strategist Bloomberg Intelligence, Chris Ratti, menyebut sebagian besar keunggulan kinerja terjadi pada kuartal II/2025. Ketidakpastian tarif dagang saat itu membuat spread obligasi ESG lebih stabil dibandingkan obligasi korporasi konvensional berperingkat tinggi.

Memasuki Januari 2026, tren berlanjut. Hingga 28 Januari, indeks GSS naik 2,04%, hampir dua kali lipat dibanding Global Aggregate yang naik 1,11%.

Obligasi Euro dan Emiten Eropa Dominasi

Obligasi berdenominasi euro menjadi pendorong utama kinerja. Penguatan euro terhadap dolar AS meningkatkan nilai investasi berbasis mata uang tersebut. Sekitar 63% eksposur indeks GSS berada pada obligasi euro.

Penerbit asal Eropa mendominasi kontribusi return, termasuk Societe des Grands Projets yang menjadi kontributor terbesar pada Januari.

Selain faktor mata uang, investor juga cenderung menahan kepemilikan obligasi hijau saat volatilitas meningkat. Strategi ini membantu menjaga stabilitas harga dan memperkuat performa indeks.

Spread Ketat, Prospek Tetap Positif

Sepanjang Januari, credit spread indeks Global Corporate Green Social Sustainability menyempit 6 bps. Saat ini spread berada di kisaran 75 bps, lebih rendah dari level sebelumnya 79 bps pada Agustus 2025.

Bloomberg Intelligence memperkirakan spread tetap ketat seiring ekspektasi pemangkasan suku bunga di Amerika Serikat dan Inggris, sementara Bank Sentral Eropa diperkirakan mempertahankan suku bunga.

Seluruh sektor dalam indeks GSS mencatat return positif pada Januari. Sektor keuangan memimpin dengan return 2,10%, diikuti real estate 2,06% dan consumer discretionary 2,04%. Obligasi berdurasi panjang di sektor-sektor ini diuntungkan oleh arah kebijakan moneter yang lebih longgar.

Sektor energi mencatat penyempitan spread lebih dari 6 bps, meski masih berada pada level tertinggi dibanding sektor lain. Consumer discretionary mencatat penyempitan terbesar, hampir 12 bps dibandingkan akhir 2025.

Investor Semakin Percaya Obligasi ESG

Performa awal 2026 memperkuat posisi obligasi ESG sebagai instrumen yang tidak hanya menawarkan dampak keberlanjutan, tetapi juga return kompetitif. Dengan dukungan permintaan investor, ekspektasi pelonggaran moneter, serta komposisi mata uang yang menguntungkan, obligasi ESG berpotensi mempertahankan keunggulan sepanjang tahun.

Leave a Comment

Your email address will not be published.

You may also like