Investasi

Investasi ESG di ASEAN Melonjak di Tengah Pelemahan Tren Global

ESG UPDATE, Jakarta, 10 Februari 2026 – Investasi berbasis lingkungan, sosial, dan tata kelola atau Environmental, Social, and Governance (ESG) di kawasan ASEAN menunjukkan tren peningkatan signifikan pada 2025, berbanding terbalik dengan kondisi pasar global yang justru melemah.

Laporan terbaru dari Maybank Investment Banking Group (Maybank IBG) mengungkapkan bahwa Asia Tenggara berhasil mengubah keberlanjutan menjadi sumber keuntungan terukur bagi investor. Di saat sentimen ESG global mengalami penurunan tajam, negara-negara ASEAN memperkuat regulasi dan mendorong investasi hijau secara agresif.

Mengutip laporan yang dirilis awal Februari 2026, secara global dana berkelanjutan mencatat penarikan modal bersih yang signifikan sepanjang 2025. Bahkan, sebanyak 71 persen indeks berbasis ESG gagal mengungguli tolok ukur (benchmark) masing-masing.

Namun kondisi berbeda terjadi di kawasan ASEAN. Perusahaan-perusahaan dengan tingkat risiko ESG lebih rendah secara konsisten mencatatkan kinerja yang melampaui pasar domestik mereka.

Perusahaan ASEAN-6 Ungguli Indeks MSCI

Laporan tersebut menyoroti kesenjangan kinerja yang nyata antara pasar global dan ASEAN. Perusahaan dalam kelompok ASEAN-6—yang mencakup Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, Thailand, dan Vietnam—dengan kategori risiko ESG sangat kecil hingga menengah, mencatat imbal hasil berlebih dibandingkan indeks negara MSCI.

Dalam periode satu tahun terakhir, perusahaan-perusahaan tersebut mengungguli pasar sebesar 16,8 persen. Dalam rentang tiga tahun, imbal hasil berlebih mencapai 6,7 persen, sementara dalam periode lima tahun tercatat keuntungan sebesar 6,3 persen.

Sebanyak 68 persen perusahaan di ASEAN-6 kini masuk dalam kategori risiko ESG yang dapat dikelola. Perusahaan-perusahaan besar dan entitas yang memiliki peran sistemik disebut menjadi motor utama dalam transisi keberlanjutan di kawasan ini.

Keuangan Berkelanjutan ASEAN Capai 51 Miliar Dolar AS

Momentum positif juga terlihat pada sektor pembiayaan. Sepanjang 2025, obligasi dan pinjaman berkelanjutan di kawasan ASEAN-6 mencapai 51 miliar dolar AS atau sekitar 3,5 persen dari total penerbitan global.

Singapura tetap menjadi pusat keuangan berkelanjutan utama di kawasan, terutama dalam penerbitan obligasi dan pinjaman hijau. Sementara itu, Indonesia dan Malaysia memperluas pangsa kredit berkelanjutan, menandakan meningkatnya keterlibatan dalam pembiayaan transisi energi dan dekarbonisasi.

Indonesia sendiri diperkirakan membutuhkan investasi sebesar 472,6 miliar dolar AS atau sekitar Rp7.400 triliun untuk memenuhi target iklim hingga 2035. Kebutuhan ini membuka peluang investasi jangka panjang di sektor utilitas, pertambangan, serta jasa keuangan.

Penguatan Kebijakan Dorong Ketahanan ESG

Ketahanan ESG di ASEAN juga didorong oleh momentum kebijakan. Pada 2025, Singapura, Malaysia, Thailand, dan Indonesia memperbarui Kontribusi yang Ditetapkan Secara Nasional (NDC) mereka, mempertegas komitmen terhadap target iklim dan pembangunan berkelanjutan.

Laporan tersebut menegaskan bahwa kualitas ESG perusahaan di ASEAN terus meningkat, dan investor memperoleh imbal hasil lebih baik dengan mendukung perusahaan berisiko ESG rendah.

Dengan kombinasi kebijakan yang progresif, arus modal yang meningkat, serta perbaikan skor ESG perusahaan, ASEAN kini dipandang sebagai kawasan yang relatif stabil di tengah fluktuasi lanskap investasi ESG global.

Leave a Comment

Your email address will not be published.

You may also like