18 Februari 2026 — European Central Bank (ECB) menerbitkan opini staf terkait revisi European Sustainability Reporting Standards (ESRS). Dalam dokumen tersebut, ECB memperingatkan bahwa penyederhanaan standar pelaporan keberlanjutan Uni Eropa berisiko “secara signifikan mengurangi transparansi bagi investor dan pelaku pasar lainnya.”
ECB menyoroti proses Omnibus Uni Eropa yang menghapus sekitar 90% perusahaan dari cakupan Corporate Sustainability Reporting Directive (CSRD). Akibatnya, jumlah perusahaan yang wajib melaporkan informasi keberlanjutan menyusut drastis.
Revisi ESRS yang dirilis oleh European Financial Reporting Advisory Group (EFRAG) pada awal Desember bertujuan menyederhanakan kewajiban pelaporan di bawah CSRD. Dalam pembaruan tersebut, jumlah datapoint wajib dipangkas hingga 61% dan seluruh pengungkapan sukarela dihapus. Standar baru juga memberi fleksibilitas lebih besar dalam penggunaan estimasi serta mengurangi kewajiban pengumpulan data langsung dari pemasok.
Meski menyambut upaya penyederhanaan, ECB menilai sejumlah keringanan permanen, masa transisi (phase-in), dan pengecualian dapat melemahkan kualitas informasi. Bank sentral tersebut menilai langkah itu berpotensi mengurangi ketersediaan dan keterbandingan data risiko keuangan, yang penting bagi stabilitas sistem keuangan.
ECB secara khusus menyoroti pengurangan standar tematik terkait perubahan iklim dan keanekaragaman hayati. Menurut staf ECB, informasi tersebut krusial untuk menilai risiko fisik dan transisi akibat perubahan iklim.
Selain itu, ECB mengingatkan bahwa beberapa keringanan baru melampaui standar internasional yang dikembangkan IFRS Foundation melalui ISSB. Kondisi ini dinilai dapat mengurangi interoperabilitas global, menurunkan kepercayaan investor, dan menghambat kemampuan perusahaan Eropa menarik pembiayaan berkelanjutan.
ECB juga mempertanyakan kesesuaian ESRS yang direvisi bagi bank dan lembaga keuangan, terutama karena berkurangnya dimensi rantai nilai dalam pengungkapan.
Sebagai solusi, ECB merekomendasikan pembatasan waktu atas sejumlah keringanan serta pengurangan masa transisi enam tahun untuk pelaporan dampak keuangan yang diantisipasi (anticipated financial effects/AFE).
Kepala Climate Change Centre ECB, Irene Heemskerk, menegaskan bahwa informasi keberlanjutan bukan sekadar pelengkap. Data tersebut, menurutnya, memberikan gambaran penting tentang risiko, ketahanan perusahaan, serta peluang investasi di masa depan.