Ekonomi Hijau

Integrasi Laporan Keuangan dan ESG Jadi Kunci Transparansi Investor

integrasi laporan keuangan dan ESG dalam perusahaan.

ESG Update- Integrasi laporan keuangan ESG mulai mengubah cara perusahaan menyajikan informasi kepada investor. Perusahaan tidak lagi hanya menampilkan angka, tetapi juga harus mengaitkannya dengan faktor keberlanjutan yang memengaruhi kinerja bisnis.

Guru Besar Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, Prof. Aria Farah Mita, menegaskan bahwa investor masih mengandalkan laporan keuangan sebagai dasar pengambilan keputusan. Namun, investor kini menuntut perusahaan untuk menghubungkan data keuangan dengan risiko dan peluang keberlanjutan.

Saat ini, banyak perusahaan di Indonesia masih memisahkan laporan keuangan dan laporan keberlanjutan. Mereka menyusun kedua laporan tersebut secara paralel, tetapi tidak menghubungkannya secara substansial. Kondisi ini membuat investor sulit membaca dampak ekonomi dari isu ESG.

Di tingkat global, regulator sudah bergerak lebih maju. International Sustainability Standards Board merilis IFRS S1 dan IFRS S2 pada 2023 untuk mendorong keterhubungan antara informasi keuangan dan keberlanjutan. Standar ini mengarahkan perusahaan agar menyajikan informasi yang terintegrasi.

Di Indonesia, Ikatan Akuntan Indonesia juga mengambil langkah serupa. Mereka menetapkan PSPK 1 dan PSPK 2 yang akan berlaku mulai 1 Januari 2027. Regulasi ini menuntut perusahaan untuk memperkuat integrasi laporan keuangan ESG.

Prof. Aria menekankan bahwa perusahaan tidak boleh menganggap pengungkapan keberlanjutan sebagai pelengkap. Perusahaan harus menjadikannya bagian inti dalam membaca kondisi ekonomi. Informasi ESG membantu menjelaskan risiko terhadap aset dan liabilitas, sekaligus memperkaya interpretasi angka keuangan.

Tanpa integrasi yang kuat, investor akan menghadapi information gap. Mereka tidak bisa menghubungkan isu keberlanjutan dengan dampak finansial secara jelas. Akibatnya, risiko informasi meningkat dan kualitas keputusan menurun.

Prof. Aria juga menegaskan bahwa perusahaan tidak cukup hanya memenuhi kewajiban regulasi. Mereka harus membangun connectivity agar informasi yang disajikan benar-benar relevan. Keterhubungan ini dapat meningkatkan decision usefulness dan menekan information risk.

Untuk menjawab tantangan tersebut, ia menawarkan pendekatan Connectivity Response Framework. Framework ini membantu perusahaan menghubungkan narasi keberlanjutan dengan angka dalam laporan keuangan secara sistematis.

Perusahaan dapat menggunakan kerangka ini untuk menentukan batas pelaporan, menilai materialitas, mengintegrasikan asumsi, serta memperkuat pengungkapan dalam Catatan atas Laporan Keuangan. Selain itu, perusahaan juga perlu memastikan kesiapan tata kelola dan audit eksternal.

Peran Penting Catatan atas Laporan Keuangan

Melalui pendekatan ini, perusahaan bisa menguji apakah informasi ESG sudah benar-benar tercermin dalam angka keuangan. Jika belum, perusahaan tetap harus menjelaskan perbedaannya secara transparan.

Dalam praktiknya, Catatan atas Laporan Keuangan memainkan peran penting. Perusahaan dapat menggunakan bagian ini untuk menjembatani angka dan narasi keberlanjutan. Investor pun bisa menelusuri keterkaitan antara risiko ESG dan kinerja keuangan.

Dorongan global terhadap transparansi ESG terus meningkat. Indonesia sudah memiliki arah kebijakan yang jelas, tetapi perusahaan harus mengejar implementasi di lapangan.

Bagi investor, integrasi laporan keuangan ESG memberikan manfaat nyata. Informasi yang terhubung memudahkan analisis, meningkatkan kepercayaan, dan menurunkan risiko dalam pengambilan keputusan.

Leave a Comment

Your email address will not be published.

You may also like