ESG dan CSR

Oleh: As’ad Nugroho (Pemerhati Masalah Bisnis Berkelanjutan)

Dalam beberapa dekade terakhir, dunia bisnis telah menyaksikan evolusi yang signifikan dalam pendekatan terhadap keberlanjutan dan tanggung jawab sosial. Perusahaan-perusahaan di seluruh dunia semakin menyadari pentingnya menjalankan bisnis dengan cara yang tidak hanya menguntungkan secara finansial, tetapi juga bertanggung jawab secara sosial dan lingkungan. Dua konsep yang sering dibahas dalam konteks ini adalah Tanggung Jawab Sosial Perusahaan (Corporate Social Responsibility/CSR) dan Lingkungan, Sosial, dan Tata Kelola (Environmental, Social, and Governance/ESG).

Meskipun kedua konsep ini memiliki tujuan yang sama, yaitu menciptakan dampak positif bagi masyarakat dan lingkungan, keduanya memiliki pendekatan dan fokus yang berbeda. CSR adalah kerangka keberlanjutan yang digunakan oleh organisasi untuk mengintegrasikan kepedulian sosial dan lingkungan ke dalam strategi bisnis. Sedangkan ESG adalah kriteria yang digunakan untuk mengukur keberlanjutan perusahaan secara keseluruhan, dengan investor sebagai pengguna informasi untuk pertimbangan keputusan investasinya.

Banyak pihak masih sering salah persepsi terhadap CSR maupun ESG, yang lebih berfokus pada kegiatan filantropi dan program sosial saja. Melalui tulisan ini, diharapkan dapat menghadirkan pemahaman mendasar yang lebih baik terkait pengembangan ESG dan bagaimana penerapan CSR dapat menjadi bagian dari strategi keberlanjutan perusahaan yang lebih luas. Dengan memahami karakteristik antara ESG dan CSR, perusahaan dapat mengadopsi praktik terbaik untuk meningkatkan kinerja keberlanjutan.

ESG menawarkan pendekatan yang lebih struktural dan sistematis, sementara CSR memberikan kontribusi sosial melalui inisiatif yang lebih spesifik. Keduanya penting dan saling melengkapi dalam upaya mencapai tujuan keberlanjutan jangka panjang. Pengetahuan ini juga akan membantu pemangku kepentingan dalam menilai dan mendukung perusahaan yang berkomitmen terhadap keberlanjutan dan tanggung jawab sosial.

Apa itu CSR?

Tanggung Jawab Sosial Perusahaan (CSR) adalah konsep manajemen yang mengintegrasikan kepedulian sosial dan lingkungan ke dalam strategi bisnis. Tujuan CSR adalah untuk memberikan dampak positif kepada masyarakat sekaligus meningkatkan reputasi. CSR dapat mencakup berbagai inisiatif mengurangi dampak operasi dan menciptakan nilai tambah, seperti mengurangi jejak karbon, memperbaiki kebijakan ketenagakerjaan, membangun ruang kantor ramah lingkungan, atau menciptakan produk baru dari bahan daur ulang.

Konsep CSR telah ada selama beberapa dekade, tetapi popularitasnya meningkat pesat sejak akhir abad ke-20. Konsep CSR berakar pada tindakan filantropis para industrialis di awal abad ke-20, seperti Andrew Carnegie dan John D. Rockefeller. Pada tahun 1953, Howard Bowen menerbitkan buku “Social Responssibilities of the Businessman,” yang mendefinisikan prinsip-prinsip CSR dan mengadvokasi etika dan tanggung jawab sosial perusahaan.

Pada awalnya, CSR lebih fokus pada kegiatan filantropi, seperti donasi ke lembaga amal atau program pengembangan komunitas. Namun, seiring waktu, perusahaan mulai menyadari bahwa tanggung jawab sosial harus lebih dari sekadar sumbangan. Mereka mulai mengintegrasikan praktik berkelanjutan ke dalam operasi bisnis sehari-hari mereka.

Tujuan utama dari Corporate Social Responsibility (CSR) adalah untuk memitigasi dampak operasi dan menciptakan nilai jangka panjang bagi perusahaan dan para pemangku kepentingannya. Melalui berbagai inisiatif yang bertanggung jawab secara sosial dan lingkungan, perusahaan dapat memperkuat hubungannya dengan komunitas, meningkatkan reputasi, serta mengurangi risiko operasional dan hukum. Implementasi CSR juga berperan dalam menarik dan mempertahankan karyawan, karena karyawan cenderung lebih loyal dan termotivasi bekerja di perusahaan yang menunjukkan kepedulian terhadap isu-isu sosial dan lingkungan.

Salah satu manfaat utama dari CSR adalah peningkatan reputasi perusahaan. Perusahaan yang aktif dalam kegiatan CSR sering kali dipandang lebih positif oleh konsumen, karyawan, dan masyarakat umum. Hal ini tidak hanya membantu dalam membangun reputasi yang baik tetapi juga meningkatkan kepercayaan dan loyalitas pelanggan. Selain itu, dengan meminimalkan dampak lingkungan dan memperbaiki kondisi kerja, perusahaan dapat mengurangi risiko operasional dan hukum yang mungkin muncul akibat praktik bisnis yang tidak bertanggung jawab.

CSR juga memainkan peran penting dalam menarik dan mempertahankan talenta. Karyawan saat ini semakin peduli dengan nilai-nilai perusahaan tempat mereka bekerja. Mereka cenderung lebih setia dan termotivasi jika merasa bahwa perusahaan mereka berkontribusi positif terhadap masyarakat dan lingkungan. Selain itu, CSR dapat membantu membangun hubungan yang lebih baik dengan berbagai pemangku kepentingan, termasuk pelanggan, pemasok, dan komunitas lokal, yang pada gilirannya dapat meningkatkan kerjasama dan dukungan terhadap perusahaan.

Contoh praktik CSR yang sukses dapat dilihat pada perusahaan besar baik multinasional maupun nasional. PT Solusi Bangun Indonesia memiliki program kolaborasi dengan Kelompok Pengelola Sampah Baruwani di Cilacap. Kolaborasi ini memfasilitasi pemanfaatan sampah yang bisa didaur ulang, serta memanfaatkan sampah yang tidak bisa didaur ulang menjadi bahan bakar alternatif bersama sampah kota sebagai pengganti batu bara di pabrik semen SBI.

Program konversi energi juga telah dilakukan oleh PT Semen Tonasa, dengan memanfaatkan sekam padi dan cangkang mete dari petani sekitar perusahaan. Dengan program ini Perusahaan dapat menghemat biaya, mengurangi jejak karbon dan memberikan manfaat ekonomi bagi petani binaan di sekitarnya.

Namun, meskipun CSR memiliki banyak manfaat, implementasinya tidak selalu mudah. Salah satu tantangan utama adalah biaya, karena inisiatif CSR sering kali memerlukan investasi yang signifikan, yang mungkin sulit bagi perusahaan kecil atau yang beroperasi dengan margin laba tipis. Selain itu, mengukur dampak dari inisiatif CSR bisa menjadi rumit dan memerlukan alat serta metodologi yang tepat. Ada juga risiko greenwashing, yaitu ketika perusahaan mengklaim keberlanjutan tanpa tindakan nyata, yang dapat merusak reputasi perusahaan.

Apa itu ESG?

ESG adalah kerangka yang digunakan untuk menilai keberlanjutan dan dampak etis dari investasi dalam perusahaan. ESG mencakup tiga aspek utama: lingkungan, sosial, dan governansi. Aspek lingkungan mengukur dampak lingkungan dari operasi perusahaan, termasuk penggunaan energi, emisi karbon, pengelolaan limbah, dan praktik konservasi. Aspek sosial menilai bagaimana perusahaan mengelola hubungan dengan karyawan, pemasok, pelanggan, dan komunitas tempat mereka beroperasi, termasuk kebijakan ketenagakerjaan, hak asasi manusia, dan kontribusi sosial. Aspek governansi melihat bagaimana perusahaan dikelola dan diatur, mencakup transparansi, etika bisnis, struktur pengurus, dan hak pemegang saham.

Konsep ESG mulai dikenal luas pada awal abad ke-21 sebagai respons terhadap meningkatnya perhatian terhadap keberlanjutan dan tanggung jawab sosial di pasar keuangan. Investor mulai menyadari bahwa faktor non-finansial dapat mempengaruhi kinerja perusahaan dalam jangka panjang. Laporan dan rating ESG menjadi alat penting bagi investor untuk mengevaluasi risiko dan peluang yang terkait dengan keberlanjutan perusahaan.

Terminologi ESG mulai dikenal luas dalam dunia bisnis dan investasi sebagai indikator utama untuk mengukur kinerja keberlanjutan perusahaan. ESG menekankan pentingnya tanggung jawab perusahaan terhadap lingkungan, dampak sosial, dan tata kelola yang baik. Dalam beberapa tahun terakhir, ESG telah menjadi topik utama dalam diskusi mengenai keberlanjutan dan tanggung jawab korporasi. Banyak investor dan pemangku kepentingan lainnya mulai mengadopsi ESG sebagai kriteria penting dalam pengambilan keputusan mereka. Dengan meningkatnya kesadaran akan perubahan iklim dan isu sosial, ESG menjadi semakin relevan dan penting.

ESG dianggap sebagai pendekatan baru yang komprehensif dalam mengelola keberlanjutan perusahaan. Ini mencakup berbagai aspek yang lebih luas dibandingkan dengan pendekatan tradisional, yang sering kali hanya berfokus pada keuntungan finansial. Dengan mengintegrasikan aspek lingkungan, sosial, dan tata kelola, ESG membantu perusahaan untuk lebih transparan dan akuntabel dalam operasional mereka. Pendekatan ini juga mendorong perusahaan untuk lebih proaktif dalam mengelola risiko dan peluang yang terkait dengan keberlanjutan. Selain itu, ESG dapat meningkatkan reputasi perusahaan dan memperkuat hubungan dengan pemangku kepentingan.

Tujuan utama dari ESG adalah memberikan gambaran yang komprehensif mengenai risiko dan peluang yang terkait dengan keberlanjutan perusahaan. Melalui kerangka ESG, investor dapat mengidentifikasi risiko lingkungan, sosial, dan tata kelola yang berpotensi mempengaruhi kinerja perusahaan. Selain itu, perusahaan dengan skor ESG yang baik cenderung memiliki kinerja keuangan yang lebih optimal dan lebih tahan terhadap krisis, sebagaimana ditunjukkan oleh berbagai studi.

Manfaat lainnya dari implementasi ESG adalah peningkatan transparansi dan akuntabilitas perusahaan. ESG mendorong perusahaan untuk lebih terbuka dalam operasinya, sehingga memungkinkan pemangku kepentingan untuk mendapatkan gambaran yang lebih jelas tentang aktivitas dan dampak perusahaan. Hal ini juga menarik minat investor yang semakin mempertimbangkan faktor ESG dalam keputusan investasi mereka, sehingga perusahaan dengan skor ESG yang baik dapat memperoleh lebih banyak modal.

Untuk mengukur kinerja ESG, terdapat beberapa alat dan metodologi yang dapat digunakan. Banyak perusahaan besar menerbitkan laporan keberlanjutan yang mencakup kinerja ESG mereka, yang dikenal sebagai Sustainability Report. Selain itu, lembaga pemeringkat seperti MSCI, Sustainalytics, dan Bloomberg menyediakan rating ESG yang membantu investor dalam mengevaluasi perusahaan. Indeks seperti Dow Jones Sustainability Index (DJSI) dan FTSE4Good Index juga menyertakan perusahaan-perusahaan dengan kinerja ESG yang baik.

Namun, implementasi ESG tidak lepas dari berbagai tantangan. Salah satu tantangan utama adalah pengumpulan data yang akurat dan relevan tentang kinerja ESG, yang bisa menjadi sangat kompleks terutama bagi perusahaan yang beroperasi di berbagai negara dengan standar yang berbeda-beda. Selain itu, tidak adanya standar universal untuk pengukuran ESG memaksa perusahaan untuk memilih dan menyesuaikan dengan berbagai metodologi yang ada, yang bisa membingungkan dan memerlukan penyesuaian yang terus-menerus. Biaya implementasi juga menjadi tantangan, karena mengintegrasikan praktik ESG ke dalam operasi bisnis memerlukan investasi yang signifikan, baik dalam bentuk uang, waktu, maupun sumber daya manusia.

CSR dan ESG

ESG Should Be a Par of Every CSR Strategy
Sumber: movingworlds.org

Meskipun CSR adalah strategi yang sangat baik untuk meningkatkan kesadaran akan inisiatif organisasi, para pemangku kepentingan saat ini menuntut transparansi dan bukti jelas yang menunjukkan bahwa Perusahaan melaksanakan apa yang diminta oleh mereka. Perusahaan yang tidak memiliki data relevan untuk mendukung komitmen CSR mereka atau hanya fokus pada hal yang salah berisiko dituduh melakukan greenwashing. Di sinilah letak kesalahan CSR. Sebuah studi baru-baru ini menemukan bahwa bahkan perusahaan dengan skor CSR tinggi secara keseluruhan pun dapat terlibat dalam beberapa bentuk praktik greenwashing. Saat ini, transparansi adalah tulang punggung klaim keberlanjutan perusahaan – dan di sinilah peran ESG.

Meskipun keduanya bertujuan untuk mempromosikan keberlanjutan dan tanggung jawab sosial, keduanya memiliki perbedaan mendasar dalam cara mereka diimplementasikan. CSR adalah pendekatan internal di mana perusahaan mengintegrasikan kepedulian sosial dan lingkungan ke dalam strategi bisnis mereka. CSR berfokus pada inisiatif dan kegiatan yang dilakukan oleh perusahaan untuk mengeliminasi dampak negatif dan menciptakan dampak positif langsung pada masyarakat dan lingkungan sekitar.

CSR membantu perusahaan untuk mengkomunikasikan komitmen keberlanjutannya kepada publik dan pemangku kepentingan. Melalui berbagai inisiatif sosial dan lingkungan, perusahaan dapat membangun reputasi sebagai bisnis yang bertanggung jawab, meningkatkan kredibilitas, dan memperkuat loyalitas pelanggan. Selain itu, keterlibatan dalam program-program CSR juga membantu perusahaan dalam menarik dan mempertahankan talenta yang lebih baik, karena karyawan cenderung lebih tertarik untuk bekerja di perusahaan yang peduli dengan dampak sosial dan lingkungan. Dengan demikian, CSR tidak hanya berfungsi sebagai alat pemasaran, tetapi juga sebagai strategi bisnis yang komprehensif untuk menciptakan nilai jangka panjang.

Di sisi lain, ESG adalah kerangka eksternal yang digunakan untuk mengukur dan menilai kinerja keberlanjutan perusahaan. ESG lebih fokus pada penilaian dari pihak luar, terutama investor dan pemangku kepentingan lainnya, yang mengamati bagaimana perusahaan mengelola isu-isu lingkungan, sosial, dan governansi. ESG menyediakan metrik yang lebih kuantitatif dan standar yang lebih konsisten, yang memungkinkan penilaian yang lebih objektif terhadap kinerja keberlanjutan perusahaan.

Perbedaan utama lainnya antara CSR dan ESG terletak pada pengukuran dan pelaporan. Pengukuran CSR sering kali bersifat kualitatif, di mana perusahaan mungkin menerbitkan laporan CSR untuk mengkomunikasikan inisiatif mereka, tetapi tidak selalu ada metodologi standar yang digunakan. Laporan CSR biasanya mencakup narasi tentang upaya perusahaan dalam bidang sosial dan lingkungan, tetapi kurang dalam hal metrik yang dapat diukur secara konsisten.

Sebaliknya, ESG menggunakan metrik yang lebih kuantitatif dengan standar yang lebih konsisten. Ada berbagai alat dan metodologi yang digunakan untuk mengukur kinerja ESG, dan perusahaan sering kali dinilai berdasarkan rating ESG oleh lembaga pemeringkat independen seperti MSCI, Sustainalytics, Bloomberg, dan lain-lain. Hal ini dapat memberikan gambaran yang lebih jelas dan terukur mengenai kinerja keberlanjutan perusahaan, yang penting bagi para investor dalam membuat keputusan investasi.

CSR dan ESG juga mempengaruhi keputusan bisnis dengan cara yang berbeda. Inisiatif CSR sering kali didorong oleh keinginan perusahaan untuk memberikan dampak positif kepada masyarakat dan meningkatkan reputasi merek mereka. Dampak CSR lebih terlihat pada keputusan bisnis internal dan hubungan dengan komunitas lokal, tetapi tidak selalu mempengaruhi persepsi investor.

Di sisi lain, ESG memiliki pengaruh yang lebih besar terhadap keputusan investasi dan persepsi pasar. Investor semakin banyak menggunakan kriteria ESG untuk membuat keputusan investasi, sehingga perusahaan dengan kinerja ESG yang baik dapat menarik lebih banyak modal dan memiliki akses yang lebih baik ke pasar keuangan. Dengan demikian, perusahaan yang berhasil dalam ESG tidak hanya mendapatkan keuntungan dari segi reputasi, tetapi juga memiliki daya tarik yang lebih besar bagi investor, yang pada gilirannya dapat meningkatkan nilai pasar mereka.

Leave a Comment

Your email address will not be published.

You may also like